KEBANGKRUTAN BLACKBERRY YANG SEMPAT MERAJAI PASAR

Blackberry merupakan merk ponsel yang sangat berjaya di masanya. Namun menjelang 2016 Blackberry mulai mengalami kebangkrutan. Masa jaya hp ini berada sekitar tahun 1999-2007. Ponsel merk ini hadir dengan design dan fitur yang inovatif. Mulai dari ibu-ibu, pekerja, bahkan sampai presiden Amerika Serikat pada masa itu menggunakan Blackberry. Sekarang orang lebih memilih antara android atau Iphone. slot deposit 10000

Mulai kehancuran Blackberry adalah pada tahun 2007, yaitu saat Apple pertama kali memperkenalkan Iphone. Android yang pada 2005 baru dibeli google awalnya ingin meniru design Blackberry dengan keyboard qwerty nya.

Blackberry pada saat itu masihlah kiblat merk-merk ponsel yang lain. Design mereka disukai oleh banyak orang. Pada saat keluarnya Iphone, android mulai meniru mereka. Sedangkan Blackberry cenderung meremehkan Iphone karena harganya yang mahal.

Pada awalnya Blackberry memang benar, karena banyak laporan dan keluhan dari pengguna Iphone saat hp ini baru dirilis. Namun seiring berjalannya waktu, Iphone bisa memperbaiki masalahnya dan berkembang sangat pesat. Android tak melewatkan kesempatan untuk mengikuti jejak Iphone. Sayangnya Blackberry tidak mau mengikuti Iphone. slot deposit 10000

Kemudian makin kemarin, semakin banyak masalah di hp Blackberyy. Misalnya saja saat mengupdate sistem yang lama. Yang kita dapatkan bukanlah sistem baru yang lebih baik, melainkan sistem baru yang membebankan kinerja hp.

Akhirnya Blackberry hanya mengandalkan aplikasi chat mereka yaitu Blackberry Messenger (BBM). Aplikasi asal Kanada ini pun sayangnya memiliki banyak kekurangan. Misalnya saja aplikasi ini sangat berat. Bahkan banyak pengguna yang mengeluh karena hp menjadi lelet karena aplikasi BBM.

Bahkan lama kelamaan produk hp ini mau mati sendiri. Brand ini sayangnya tidak ada memberikan solusi atau teknologi baru untuk menyennagkan hati konsumennya.

Blackberry Kehilangan Pasar

Pengguna Blackberry di Indonesia sempat gagal move on dari brand ini. Disaat orang-orang diluar negeri sudah mulai meninggalkan Blackberry, masih banyak orang Indonesia yang membanggakan Blackbberry mereka.

Melihat hal ini Blackberry tentunya senang karena pasar mereka belum sepenuhnya mati. Sayangnya hal ini tidak dipergunakan dengan baik oleh Blackberry. Mereka tidak mendirikan rumah produksi ataupun pusat pelayanan di Indonesia. BlackBerry malah memilih negara tetangga yang penjualan ponselnya pada saat itu tidak setinggi penjualan di Indonesia.

Ini sudah diprediksi oleh lembaga riset asal Inggris, Juniper Research. Penurunan pangsa pasar BlackBerry ini tak lepas dari usaha produsen ponsel pintar lain yang makin gencar memperluas basis penggunanya di negara-negara berkembang. “Bahkan, di pasar terkuat untuk BlackBerry, seperti Afrika Selatan dan Indonesia, persaingan semakin ketat membuat vendor ponsel lain mencari daerah pertumbuhan baru,” kata Michael Wiggins, analis dari Juniper Research.

Banyak Produk Android yang Menggagalkan Kesuksesan Blackberry

HTC Dream menandari munculnya pasar android. Pada waktu itu belum banyak yang menjadikan android pesaing, bahkan blackberry. Bahkan tidak sedikit orang yang mencemooh android. Kedengarannya mereka hanya mengumpulkan beberapa orang untuk membuat ponsel dan kami sudah melakukan itu bertahun-tahun. Saya tak paham dampak seperti apa yang akan mereka punya,” kata Scott Horn, eksekutif Microsoft kala itu.

Pemimpin BlackBerry juga gagal melihat visi Google dan juga Apple bahwa ponsel tidak hanya semata alat komunikasi, namun akan menjadi pusat entertainment dan didukung aplikasi bagus. Mereka tetap menilai keunggulan tradisional BlackBerry takkan tergoyahkan.

Kemunculan tipe-tipe android yang baru mematahkan langkah Balckberry untuk meraih kembali kesuksesannya. Android masa itu tampil dengan design yang mewah dan userinterface yang kian hari kian menarik. Ditambah juga google rajin melakukan pembaruan yang mempermudah android.

Mereka rajin melakukan update sistem androidnya dengan menggunakan kode makanan seperti Gingerbread, Ice Cream Sandwich, Jelly Bean, Kitkat, Lollipop sampai Marshmallow.

Semua ini adalah upaya android untuk membuat perangkat mereka sempurna. Dimanakah Blackberry saat semua hal itu terjadi? Blackberry mengatakan bahwa masih banyak orang-orang penting dan korporasi yang memerlukan sistem keamanan mereka.

Sepertinya mereka hanya fokus pada Presiden Amerika dan juga orang besar lain yang menggunakan ponsel mereka. Sampai mereka akhirnya sadar bahwa tidak ada lagi yang menggunakan mereka di pasaran.

Blackberry Terlalu Percaya Diri Dengan Sistem Keamanan

Tidak bisa dipungkiri bahwa sistem keamanan Blackberry memanglah baik. Karena itu banyak orang besar bahkan sampai Presiden Obama memakai hp merk ini. Namun sayangnya mereka terlalu membanggakan hal tersebut dan tidak melakukan inovasi.

Bahkan saat mereka merilis versi androidnya dengan mengangkat embel-embel keamanan, hp ini tetap tidak laku. Blackberry pada saat itu masih menganggap diri mereka sebagai sebuah merk besar, jadi mereka merilis hp dengan software sedanya namun memiliki harga yang mahal. Padahal dengan harga segitu, masyarakat sudah bisa membeli android dengan fitur yang jauh lebih canggih.

Blackberry Layar Sentuh

Sebenarnya Blackberry juga pernah mengantisipasi gelombang iphone dan android dengan merilis Blackberry layar sentuh. RiM pun akhirnya merilis BlackBerry Storm yang navigasinya layar sentuh. Awalnya produk ini laku karena nama BlackBerry masih tenar dan ditunjang marketing besar. Tapi teknisi RIM tahu kalau Storm bukan produk yang matang.

Browsernya lambat, layar sentuhnya susah digunakan dan kerap hang. Banyak konsumen tak jadi membelinya. Akhirnya Storm dipandang produk gagal. Banyak yang rusak dan harus diganti sehingga menimbulkan kerugian tak hanya bagi RIM tapi operator yang memasarkannya.

Untuk pertama kali setelah sukses luar biasa di hampir semua ponselnya, RIM punya produk gagal. Banyak pihak mulai bertanya-tanya apakah BlackBerry mampu bersaing dengan iPhone. “Semua orang kecewa karena kegagalan Storm. Semangat di perusahaan jadi turun,” kata COO RIM, Don Morisson.

Tapi Lazaridis bersikeras kalau Storm bukanlah kegagalan. Baginya, Storm adalah percobaan pertama RIM menggunakan teknologi baru. Ia mengambil sisi positif Storm seperti kameranya lumayan, speaker bagus dan baterai bisa diganti. Lazaridis menilai Storm harus menjadi lebih baik. Maka Storm 2 pun dirilis. Tapi lagi-lagi sayangnya, penjualannya tak sesuai harapan. BlackBerry pun mulai kebingungan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.